BANDUNG — Lembaga Pendidikan Bandung Zoo menggelar serangkaian acara akademik bergengsi pada Senin, 7 April 2026, yang menandai komitmen institusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas. Acara yang diselenggarakan meliputi seminar internasional, webinar daring, dan kuliah umum dengan menghadirkan pembicara terkemuka dari berbagai bidang zoologi, konservasi, dan pendidikan lingkungan.
Rangkaian acara akademik ini merupakan bagian dari program tahunan Lembaga Pendidikan Bandung Zoo dalam meningkatkan kompetensi lulusan dan memperkuat peran institusi sebagai pusat pembelajaran zoologi terdepan di Indonesia. Dengan tema besar “Konservasi Satwa Liar dan Pendidikan Berkelanjutan di Era Digital,” acara berlangsung di berbagai lokasi di kompleks kampus dengan menghadirkan lebih dari 1.500 peserta dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan praktisi di bidang zoologi dan konservasi alam.
Agenda Lengkap Acara Akademik
Seminar internasional yang menjadi puncak dari rangkaian acara dimulai pada pukul 08.00 WIB di Auditorium Utama Gedung Prof. Dr. Bambang Suryanto dengan tajuk “Strategi Konservasi Satwa Endemis dan Peran Lembaga Pendidikan dalam Pembangunan Berkelanjutan.” Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Lembaga Pendidikan Bandung Zoo, Prof. Dr. Ir. Hendra Wijaya, M.Sc., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antara akademis dan praktisi konservasi.
“Hari ini kita berkumpul untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana pendidikan zoologi dapat berkontribusi langsung pada upaya konservasi satwa liar di Indonesia dan dunia. Lembaga Pendidikan Bandung Zoo percaya bahwa generasi mahasiswa hari ini akan menjadi pemimpin konservasi masa depan,” ujar Rektor Wijaya dalam sambutannya.
Seminar internasional menghadirkan tiga pembicara utama dari berbagai negara. Pembicara pertama adalah Prof. Dr. Sarah Mitchell dari University of Melbourne, Australia, yang merupakan ahli konservasi primata dengan pengalaman lebih dari 25 tahun meneliti orangutan di Kalimantan. Beliau akan mempresentasikan makalah berjudul “Orangutan Conservation: Linking Research to Community-Based Solutions in Indonesia and Malaysia.”
Pembicara kedua adalah Dr. James Chen dari Wildlife Conservation Institute, Amerika Serikat, yang akan membahas pemanfaatan teknologi artificial intelligence dan big data dalam monitoring populasi satwa liar. Sedangkan pembicara ketiga adalah Prof. Dr. Sukamto Budi Santoso dari Institut Pertanian Bogor, yang akan menyampaikan perspektif lokal tentang integrasi kurikulum zoologi dengan kebutuhan industri konservasi di Indonesia.
Selain itu, seminar juga menampilkan sesi panel diskusi dengan narasumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Panel diskusi ini akan membahas regulasi perlindungan satwa, tantangan implementasi program konservasi, dan peluang karir bagi lulusan pendidikan zoologi.
Webinar Daring dengan Jangkauan Global
Paralel dengan seminar internasional, Lembaga Pendidikan Bandung Zoo juga menyelenggarakan tiga sesi webinar daring secara simultan melalui platform Zoom dan streaming langsung di YouTube. Webinar pertama dengan topik “Teknologi DNA Barcoding untuk Identifikasi Spesies: Aplikasi Praktis di Lapangan” dipandu oleh Dr. Rini Purwanto, Kepala Laboratorium Genetika Zoologi kampus, yang merupakan peneliti aktif dalam proyek identifikasi spesies amfibi di kawasan Sundanese.
“Teknologi modern seperti DNA barcoding memungkinkan kami untuk mengidentifikasi spesies dengan akurat dalam waktu singkat. Ini sangat penting untuk program konservasi dan monitoring keanekaragaman hayati,” jelas Dr. Purwanto ketika dihubungi sebelum acara.
Webinar kedua mengangkat tema “Entrepreneurship dalam Sektor Konservasi: Dari Penelitian hingga Bisnis Berkelanjutan” dengan pembicara Budi Hermawan, founder dari eco-tourism enterprise yang berbasis di Taman Nasional Ujung Kulon. Hermawan akan berbagi pengalamannya dalam mengembangkan model bisnis berkelanjutan yang sekaligus mendukung upaya konservasi habitat alami.
Webinar ketiga, yang merupakan sesi khusus untuk guru dan pendidik sekolah menengah, menghadirkan Dr. Yuni Maharani, pakar pendidikan lingkungan dari Universitas Negeri Jakarta. Topik diskusi adalah “Mengintegrasikan Pembelajaran Zoologi dan Konservasi dalam Kurikulum Merdeka: Inovasi Pembelajaran di Era Digital.”
Kuliah Umum dan Engagement Komunitas
Sebagai bagian dari komitmen sosial akademis, Lembaga Pendidikan Bandung Zoo mengadakan kuliah umum terbuka untuk umum pada sore harinya, pukul 14.00 WIB, dengan pembicara Prof. Dr. Bambang Setiawan, pakar biologi konservasi dan penulis buku “Menyelamatkan Satwa Liar Indonesia” yang telah diterjemahkan ke dalam 12 bahasa. Kuliah umum ini bertajuk “Peran Individu dalam Konservasi Global: Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata.”
“Saya percaya bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam konservasi. Tidak hanya para ilmuwan dan pemerintah, tetapi setiap orang bisa berkontribusi melalui gaya hidup berkelanjutan dan edukasi lingkungan di lingkungan sekitarnya,” ungkap Prof. Setiawan dalam wawancara eksklusif dengan Humas Kampus sebelum acara berlangsung.
Kuliah umum ini dihadiri tidak hanya oleh mahasiswa dan akademisi, tetapi juga oleh pelajar sekolah menengah, komunitas pecinta alam, dan masyarakat umum yang tertarik dengan topik konservasi. Antusiasme publik terhadap acara ini tercermin dari terjualnya semua tiket gratis yang disediakan dalam waktu kurang dari tiga jam setelah pembukaan registrasi.
Dukungan dan Kemitraan Strategis
Penyelenggaraan rangkaian acara akademik ini didukung oleh berbagai mitra strategis, termasuk Bandung Zoo sendiri sebagai institusi induk, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta beberapa organisasi internasional seperti International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan World Wildlife Fund (WWF).
Dr. Hendra Wijaya, selaku Rektor, menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan bukti nyata dari pengakuan nasional dan internasional terhadap kontribusi Lembaga Pendidikan Bandung Zoo dalam pendidikan zoologi dan konservasi. “Kami bangga bahwa institusi ini telah menjadi referensi penting bagi banyak pihak dalam mengembangkan program konservasi. Dukungan dari berbagai mitra memotivasi kami untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pendidikan,” katanya.
Harapan dan Dampak Jangka Panjang
Pihak penyelenggara memiliki harapan besar bahwa acara ini akan menghasilkan beberapa dampak signifikan. Pertama, peningkatan kesadaran akan pentingnya konservasi satwa liar di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas. Kedua, pembentukan jaringan kolaborasi antara institusi pendidikan, peneliti, praktisi konservasi, dan sektor industri yang relevan.
Ketiga, penghasilkan rekomendasi kebijakan tentang integrasi pendidikan konservasi dalam kurikulum pendidikan di berbagai jenjang. Keempat, identifikasi topik-topik penelitian baru yang relevan dengan kebutuhan nyata di lapangan konservasi.
Koordinator Acara, Dr. Imam Setiawan, Direktur Pusat Kajian Konservasi Satwa Liar Lembaga Pendidikan Bandung Zoo, mengungkapkan optimismenya. “Event ini dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar forum akademis. Kami ingin menciptakan momentum yang akan membawa perubahan nyata dalam cara kita mendekati konservasi satwa liar. Melalui dialog yang intensif antara berbagai stakeholder, kami yakin akan lahir ide-ide segar dan solusi inovatif,” katanya.
Penutup
Rangkaian acara akademik 7 April 2026 di Lembaga Pendidikan Bandung Zoo merepresentasikan dedikasi institusi dalam menjaga relevansi pendidikan zoologi dengan tantangan konservasi global kontemporer. Dengan menghadirkan pembicara berkualitas tinggi, memberikan platform bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para ahli, dan membuka akses publik melalui kuliah umum, institusi ini menunjukkan komitmen untuk tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial dalam upaya pelestarian satwa liar.
Menjelang berakhirnya acara, para peserta akan diminta untuk menandatangani “Bandung Zoo Education Charter 2026,” sebuah komitmen bersama dari akademisi, praktisi, dan masyarakat untuk memperkuat peran pendidikan dalam konservasi satwa liar. Dokumen ini akan diserahkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai masukan untuk pengembangan kebijakan konservasi ke depan.